• Selasa, 28 Juni 2022

Terkenal Angker, Rumah Ngadiyo yang Dijadikan Syuting Film KKN di Desa Penari Dijual

- Rabu, 18 Mei 2022 | 19:39 WIB
 (Rumah Film KKN di Desa Penari Dijual Pemilik Seharga Rp60 Juta. Foto: Istimewa)
(Rumah Film KKN di Desa Penari Dijual Pemilik Seharga Rp60 Juta. Foto: Istimewa)
HARIAN MASSA - Dusun Ngluweng, di Kalurahan Ngleri Kapanewon Playen, Gunungkidul mendadak terkenal usai dijadikan lokasi syuting film horor KKN di Desa Penari
 
Sedikitnya, ada 4 rumah yang dijadikan lokasi syuting film horor KKN di Desa Penari di dusun itu. Lokasinya yang terpencil, membuat Dusun Ngluweng terpilih menjadi lokasi syuting film tersebut. 
 
Subardo (51), salah satu pemeran hantu dan juga bertugas menjadi linmas selama syuting berlangsung menceritakan, sebenarnya ada 6 rumah yang dia tawarkan untuk lokasi syuting.
 
 
Namun pihak produser film memilih rumah saja. Salah satunya rumah milik Ngadiyo.
 
"Salah satunya adalah rumah milik Ngadiyo, rumah yang dijadikan rumah utama pelaksanaan syuting film tersebut," katanya, Rabu (18/5/2022).
 
Rumah Ngadiyo lokasinya memang berada di pinggiran. Rumah tersebut dipilih menjadi pusat atau rumah utama syuting film KKN di Desa Penari karena letaknya yang cukup terpencil.
 
Rumah tersebut sebagian berdinding bambu dan kayu, di bawah rimbunan pohon bambu. 
 
 
Beberapa adegan yang diambil di rumah tersebut di antaranya adalah ketika Bima dan Ayu tewas di atas tempat pembaringan. Adegan lain yang menegangkan diambil di rumah tersebut adalah ketika Bayu melempar bungkusan kepala monyet yang berlumuran darah.
 
"Adegan tersebut diambil di sisi kiri rumah Ngadiyo," paparnya.
 
Adegan selanjutnya adalah ketika salah seorang warga mengintip Widya dari luar dan yang nampak hanya ular, sehingga warga berbondong-bondong membawa kayu dan senjata ingin menangkapnya.
 
Selain itu ada juga adegan ketika para peserta KKN tersebut menikmati kopi di luar ruangan. Di mana bagian depan rumah Ngadio disetting dengan menempatkan beberapa meja kursi untuk minum kopi.
 
 
"Di dalam itu ruangan-ruangan diubah semua. Dicat dengan warna hitam, pokoknya seram," paparnya.
 
Jika dari lokasi syuting rumah pertama dan kedua yang awalnya dijadikan posko KKN, maka untuk menuju ke rumah Ngadiyo harus melewati jalan setapak yang ditumbuhi dengan rimbunan pohon.
 
Ngadiyo bersama istrinya tinggal di rumah yang sebenarnya belum lama dibangun. Rumah tersebut awalnya miring karena digoyang gempa pada 2006 dan oleh pemiliknya dirobohkan sekalian, sehingga mendapatkan bantuan dari pemerintah kategori rusak berat Rp15 juta.
 
Saking seramnya rumah tersebut, warga yang kebetulan diundang untuk mengikuti acara kendurian syukuran selesainya syuting justru merasa ketakutan.
 
 
Karena saat dilaksanakan kendurian syukuran tersebut setting rumah sama sekali tidak berubah mirip dengan adegan film tersebut.
 
Setelah syuting film tersebut selesai, pemilik pun enggan untuk menempati rumah tersebut. Mereka mengaku takut tinggal di rumah yang konon bertambah seram usai syuting film ini.
 
"Mbah Ngadiyo itu juga meninggal usai syuting film tersebut. Tetapi bukan karena syuting, beliau sudah sakit cukup lama," tambahnya.
 
Kini, rumah tersebut dibiarkan kosong oleh pemiliknya karena istri Mbah Ngadiyo enggan tinggal di rumah tersebut dan memilih bersama dengan anaknya. Di samping itu, anak-anaknya beserta cucu Mbah Ngadiyo juga enggan tinggal di rumah tersebut karena mengaku takut.
 
 
Karena menjadi sentra syuting film KKN di Desa Penari, maka pemilik rumah memasang tarif cukup tinggi untuk pelaksanaannya.
 
Kala itu pemilik rumah meminta tarif dan diamini produsen film itu.
 
"Dari uang sewa tersebut pemilik rumah ternyata mampu membeli sebidang tanah di tempat lain," tambahnya.
 
Dukuh Ngluweng, Istri Rahayu juga memiliki pengalaman mistis di rumah tersebut. Istri mengakui rumah Ngadiyo memang angker.
 
Suatu ketika dirinya mendatangi rumah Ngadiyo untuk mengantar zakat mal dari seseorang. Ketika sampai di rumah Ngadiyo, ia mengucap salam. Dan dari dalam rumah terdengar jawaban salam juga.
 
 
Namun setelah 10 menit menunggu, ternyata tidak ada seorangpun yang keluar. Dia pun lantas bergeser ke rumah tetangganya yang lain dan berpapasan dengan cucu dari Ngadiyo.
 
"Saya tanya, mbah Ngadiyo dan istrinya ke mana? Si cucunya tadi jawab baru terapi. Saya terus lari pulang. Lha terus siapa yang jawab salam dari dalam rumah tadi, hii bikin merinding," ceritanya.
 
Namun karena kini kosong dan terlihat menyeramkan, maka keluarga memutuskan untuk menjual rumah tersebut. Kendati ditawarkan, namun sampai saat ini belum ada yang bersedia membelinya.
 
"Ini kalau ada yang mau beli. Dua rumah limasan ukuran 8x12 dijual Rp60 juta. Rumah bekas syuting film KKN di Desa Penari," tukasnya.

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X