• Senin, 15 Agustus 2022

Minum Obat Dokter Kebanyakan Bisa Sebabkan Kematian, Waspadai Polifarmasi

- Minggu, 29 Agustus 2021 | 00:15 WIB
Ilustrasi obat-obatan. Foto: Pixabay
Ilustrasi obat-obatan. Foto: Pixabay

HARIAN MASSA - Sering kali, ketika ke dokter kita mendapat banyak sekali obat. Mulai dari antibiotik, vitamin, obat lambung, penenang dan beberapa lagi. Tetapi tahukah anda, bahwa minum banyak obat itu berbahaya?

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban mengatakan, minum banyak obat bisa berbahaya. Apalagi bagi lansia. Dampak paling buruk, bisa membuat pasien meninggal dunia.

"Penggunaan lima obat atau lebih secara teratur oleh satu pasien ini sering didefinisikan sebagai polifarmasi. Apalagi di atas sepuluh jenis. Makin banyak. Makin bahaya," katanya @ProfesorZubairi, dikutip Harian Massa, Sabtu (28/8/2021).

Baca juga: Tren Baru Warga Tangsel Berburu Vaksin Hanya untuk Mencari Sertifikat Vaksin Covid-19

Dilanjutkan dia, dalam beberapa kasus, pasien malah jadi memilih-milih obat tanpa sepengetahuan dokternya. Padahal, mungkin saja pasien melewatkan obat yang justru penting untuknya. Tentu hal ini mengganggu pengobatan.

"Polifarmasi ini disadari banget dibanyak negara. Termasuk Indonesia, Amerika, dan negara lain. Kejadiannya cukup sering dan bisa membahayakan pasien. Karena itu, tulislah resep yang diperlukan oleh pasien," jelasnya.

Baca juga: BERITA FOTO: Mural-mural Langka di Masa Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Dia mencontohan, pasien rawat inap lansia yang memiliki lebih dari dua penyakit. Masing-masing penyakit diobati oleh spesialis yang berbeda. Tentu akan menerima beberapa jenis obat. Pada kondisi ini, peran dokter sangat penting.

"Nah, Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) yang harus menentukan. Dalam arti menentukan obat-obat dari para spesialis itu. Dia (DPJP) harus menyeleksi agar tidak terjadi polifarmasi yang bisa merugikan kondisi pasien," tukasnya.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X