• Kamis, 18 Agustus 2022

7 Adab Iringi Jenazah menurut Imam al-Ghazali

- Sabtu, 25 September 2021 | 14:05 WIB
Ilustrasi pemakaman muslim (Shutterstock)
Ilustrasi pemakaman muslim (Shutterstock)

 HARIAN MASSA - Seiring dengan banyaknya kabar kematian, maka ada sejumlah adab yang harus diperhatikan. Setidaknya ada 7 adab saat mengiringi jenazah sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali.
 
Disebutkan dalam sejumlah keterangan bahwa hukum mengiringi atau mengantar jenazah ke pemakaman adalah sunah. Perintah ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muslim sebagaimana penggalan berikut:

 وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ


Artinya: Apabila seorang muslim mati, iringilah jenazahnya. (HR Muslim).   

Baca Juga : Coba Lakukan Amalan dari Almarhum Syekh Ali Jaber Ini, Utang Perlahan Lunas

Dalam mengiringi jenazah ada beberapa adab tertentu yang hendaknya diperhatikan sebagaimana dinasihatkan Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 438), sebagai berikut:

   آداب المشي في الجنازة: دوام الخشوع وغض البصر وترك الحديث وملاحظة الميت بالاعتبار والتفكر فيما يجيب به من السؤال والعزم على المبادرة فيما يخاف به من المطالبة وخوف حسرة الفوت عند هجوم الموت   

 

Artinya: Adab mengiringi jenazah, yakni: senantiasa khusyu’, menundukkan pandangan, tidak bercakap-cakap, mengamati jenazah dengan mengambil pelajaran darinya, memikirkan pertanyaan kubur yang harus dijawabnya, bertekad segera tobat karena ingat segala amal perbuatan semasa hidup pastilah dimintai pertanggung jawaban, berharap agar tidak termasuk golongan yang akhir hidupnya buruk ketika maut datang menjemput.   
 
Dari kutipan di atas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:   

1. Senantiasa Khusyu’ 
Mengiringi jenazah hendaknya dilakukan secara khusyu’ dan tidak boleh dengan bersenda gurau. Setiap pelayat yang mengiringi jenazah hingga ke tempat pemakaman hendaknya senantiasa menyadari bahwa kematian tentu menimbulkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan si mayit.  Oleh karena itu sikap khusyu’ harus diupayakan demi menghormati perasaan duka mereka.   
 
Selain itu, adanya anjuran dari Rasulullah agar para pengiring jenazah berlaku khusyu’ menandakan bahwa kegiatan ini bukan semata-mata bersifat sosial, tetapi sekaligus merupakan ibadah yang bernilai pahala.
  
2. Menundukkan Pandangan 
Mengiringi jenazah adalah ibadah. Orang beribadah terikat dengan adab yang berlaku demi membaguskan amal. Menundukkan pandangan dan tidak membiarkan mata melihat kemana-mana sangat membantu memungkinkan para pelayat mengiringi jenazah dengan khusyu’ sehingga lebih bisa meresapi suasana duka. Memang menunjukkan sikap berduka atau bela sungkawa khususnya kepada kerabat yang ditinggalkan termasuk hal yang dianjurkan.
 
3. Tidak Bercakap-cakap 
Menghindari percakapan yang tidak perlu di antara sesama pelayat memang harus diupayakan. Suasana khidmat dan khusyu’ bisa terganggu oleh suara berisik dari percakapan para pelayat yang tak terkontrol. 
Tetapi berbeda halnya jika suara yang keluar adalah kalimat thayyibah (لا اله إلا الله محمد رسول الله). 
Kalimat ini bagus diucapkan oleh para pelayat karena mengingatkan keimanan kepada Allah dan rasul-Nya dan dapat menciptakan suasana khidmat dan khusyu’ di antara para pengiring jenazah.   

Halaman:

Editor: Ilham Restu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X