• Jumat, 7 Oktober 2022

Penderitaan Rakyat masa Penjajahan Jepang, Disuruh Makan Kiong Racun dan Dijadikan Pelacur

- Sabtu, 13 Agustus 2022 | 07:15 WIB
Ilustrasi militer Jepang. Foto: Istimewa
Ilustrasi militer Jepang. Foto: Istimewa

HARIAN MASSA - Lepas dari mulut harimau, masuk mulut buaya. Sama saja! Ungkapan tersebut sangat pas untuk menggambarkan penderitaan rakyat masa penjajahan Jepang yang seumur jagung di Indonesia.

Jepang mulai menduduki wilayah Indonesia, sejak Maret 1942. Awalnya rakyat Indonesia, meski tidak semuanya, menyambut kedatangan bangsa "kate" ini sebagai pembebas, karena telah mengalahkan Belanda.

Bendera merah putih boleh dikibarkan, lagu Indonesia Raya boleh dinyanyikan. Setiap kali berjumpa, tentara Jepang selalu memekikan salam, "Indonesia-Jepang sama-sama." Salam itu pun disambut hangat.

Baca juga: Kisah Kekejaman Militer Jepang, Hukum Pancung 40.000 Guru dan Kaum Cerdik Pandai di Kalimantan

Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Dalam sekejap, bendera merah putih dilarang berkibar dan lagu kebangsaan Indonesia Raya tidak boleh dinyanyikan. Jepang mulai membuka kedoknya sebagai bangsa penjajah.

Pada masa penjajahan Jepang, hidup rakyat sangat sengsara. Tidak sedikit yang tewas dihukum pancung dan ditusuk dengan bayonet. Jangankan salah di depan tentara Jepang, benar saja bisa terkena tempeleng.

Orang-orang kaya di kota dan desa, dipaksa menyerahkan hartanya, berupa emas, intan, berlian, dan uang. Sedang para petani dipaksa untuk menyerahkan hasil panen dan ternaknya, serta dibiarkan mati kelaparan.

Baca juga: Riwayat Bom Atom Hiroshima-Nagasaki dan Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Tidak hanya itu, para petani juga dipaksa menanam jarak ditiap pekarangannya. Setelah itu, buahnya diserahkan kepada tentara Jepang. Jumlahnya mencapai jutaan ton, lalu dijadikan minyak untuk kepentingan perang Jepang.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X