• Rabu, 29 Juni 2022

Banjir Darah di Tanah Mataram, Amangkurat I Bunuh 6.000 Ulama Islam dalam Waktu 30 Menit

- Jumat, 3 Juni 2022 | 07:25 WIB
Amangkurat I. Foto: Istimewa
Amangkurat I. Foto: Istimewa

HARIAN MASSA - Peristiwa pembantaian 6.000 ulama di Tanah Mataram Islam, merupakan sejarah kelam yang tidak terlupakan. Bagaimana jalannya peristiwa itu, berikut ulasan singkat Harian Massa.

Peristiwa pembantaian ulama ini, terjadi pada masa kekuasaan Sultan Amangkurat I dari Kerajaan Islam Mataram. Dalam catatan sejarah Islam di Nusantara, pembantaian ulama ini merupakan yang terbesar dan brutal.

Sebelum lebih jauh membahas peristiwa kelam itu, baiknya kita ungkap sekilas sosok peminum darah para ulama ini.

Baca juga: Hedonisme Masyarakat Jawa masa Majapahit, Suka Mabuk-mabukan dan Berbuat Zina

Saat lahir, dia diberi nama Arab, Sayidin. Ketika sunat, dia dipanggil Jibus atau Rangkah, Semak Berduri. Di hari pernikahannya dengan putri Pangeran Pekik dan adik perempuan Sultan Agung, dia bergelar Pangeran Aria Mataram.

Sewaktu ayahnya mangkat, dia dinobatkan sebagai Sultan Amangkurat I. Sehari setelah penobatannya menjadi Raja Mataram, dia membangun keraton baru di tepi Kali Opak. Pembangunan ini dijalankan dengan kerja paksa.

Para petani laki-laki dan perempuan diharuskan meninggalkan sawah dan ladang. Mereka dipaksa bekerja paksa, tanpa upah hingga mati kelaparan. Raja yang lalim ini sangat dibenci oleh rakyatnya, dan selalu curiga dengan saudaranya.

Baca juga: Gerakan Samin Menolak Membayar Pajak ke Pemerintah Kolonial Belanda (1)

Dia memerintahkan untuk membunuh pamannya sendiri, Pangeran Pekik dan membawa kepalanya ke Istana Mataram sebagai tanda kemenangan atas rasa takutnya sendiri. Dia juga membunuh adiknya sendiri, Raden Mas Alit.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X