• Kamis, 18 Agustus 2022

Tan Jing Sing, Sosok di Balik Kembalinya Takhta Sultan Hamengku Buwono III

- Selasa, 29 Maret 2022 | 07:00 WIB
Tan Jing Sing. Foto: Istimewa/Harianmassa.id
Tan Jing Sing. Foto: Istimewa/Harianmassa.id

Lamaran ini diterima. Namun, hingga Tan Jing Sing berusia 11 tahun, dia tidak tahu jika yang merawatnya itu ibunya. Hal ini memang dirahasiakan. Baru saat ibunya sakit keras, rahasia itu baru dibongkar oleh Tek Liong.

Meski demikian, Tek Liong tetap meminta Tan Jing Sing merahasiakan peristiwa itu sebagai rahasia keluarga mereka.

Ramalan biksuni ternyata benar. Tan Jing Sing tumbuh menjadi anak yang cerdas. Dia pandai berbicara dan menulis dengan bahasa Jawa, Cina, Belanda, serta Inggris. Tidak hanya itu, dia juga pandai berdagang mengikuti Tek Liong.

Pada usia 30 tahun, Tan Jing Sing diangkat menjadi Kapten Cina di Kedu, dan beberapa tahun kemudian di Yogyakarta.

Baca juga: Film Janur Kuning Propaganda Orde Baru Tonjolkan Peran Soeharto Hapus Klaim Sultan

Dia juga terjun di politik dan pernah mempertaruhkan nyawa membantu Pangeran Surojo atau Sultan Raja dalam memperoleh takhtanya kembali di Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono III.

Dari sinilah dia kemudian diangkat menjadi pembantu utama Sultan Hamengku Buwono III sebagai bupati dengan gelar Raden Tumenggung Secodiningrat. Dia meninggal pada 10 Mei 1831 dan dikebumikan sebagai orang Jawa Islam.

Dalam peta Yogyakarta yang dilampirkan pada buku Peringatan 200 Tahun Yogyakarta 1756-1956, masih tercatat nama Jalan Secodiningratan yang sekarang telah menjadi Jalan P Senopati. Inilah bukti historis sosok Secodiningrat.

Di samping itu, adanya akta notaris No 57 tertanggal 24 April 1861, lampiran Serat Kekancingan atau Surat Silsilah dan keterangan ahli waris RT Secodingratan. Sampai di sini ulasan Tan Jing Sing disudahi. Semoga bermanfaat.

Sumber tulisan:
TS Werdoyo, Tan Jing Sing, dari Kapoten Cina sampai Bupati Yogyakarta, Grafiti, 1990.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X