• Selasa, 16 Agustus 2022

Sebanyak 120 Rumah Warga Rusak Akibat Banjir di Aceh

- Selasa, 2 November 2021 | 17:25 WIB
Sisa material lumpur saat terjadi banjir di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh. Foto: BPBD Kabupaten Pidie
Sisa material lumpur saat terjadi banjir di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh. Foto: BPBD Kabupaten Pidie

HARIANMASSA - Sebanyak 120 rumah warga rusak akibat banjir yang terjadi di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Adapun rincian rumah warga yang rusak yakni 51 rumah rusak ringan dan 69 rumah rusak berat.

BPBD Kabupaten Pidie menyebutkan banjir ini melanda lokasi di Gp. Peunalom I, Gp. Peunalom II, Gp. Layan, Gp. Pulo Mesjid yang terletak di Kecamatan Tangse. Di lokasi ini sedikitnya terdapat 120 KK terdampak.

"Rumah warga dan fasilitas publik yang sebelumnya terkena material yang terbawa banjir, kini sudah dibersihkan," kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa (2/10/2021).

Ia melanjutkan, upaya percepatan ini juga di percepat, dengan pengerahan alat berat guna membantu proses pembersihan sisa material banjir. Mengingat material banjir yang terbawa arus sungai jumlah sangat banyak.

Baca Juga: Ini Dia Suku Kanibal Terakhir di Indonesia

Sementara itu, bantuan logistik juga telah dan terus diberikan bagi warga terdampak guna pemenuhan kebutuhan dasar di lokasi terdampak. Beberapa logisitik ini juga salah satunya bantuan dari Lembaga Swadaya Masyarakar (LSM) di wilayah Kabupaten Pidie untuk bersama-sama memberikan upaya percepatan penanganan darurat.

Merujuk informasi prakiraan cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Pidie berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga tiga hari kedepan (3/11). Sementara itu, analisa InaRISK menunjukan Kabupaten Pidie memiliki potensi risiko banjir dengan kategori sedang hingga tinggi.

Baca Juga: Diganti Bus, Bima Arya Hancurkan 30 Angkot Tak Layak Beroperasi dengan Alat Berat

Menyikapi hal ini, BNPB menghimbau masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk tetap waspada dan siaga, terlebih dalam menghadapi potensi La Nina yang dapat terjadi pada periode Oktober 2021 sampai dengan Februari 2022.

"Peningkatan curah hujan ini berpotensi memicu terjadinya risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang," ujarnya.

Halaman:

Editor: Rabbani

Sumber: BPBD Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X