• Kamis, 18 Agustus 2022

Geliat Buruh Tani Menanam 'Harap' di Hutan Beton Jakarta

- Sabtu, 16 Oktober 2021 | 20:36 WIB
Sarmita (50), seorang buruh tani yang berjuang menanam tanaman dibalim bangunan gedung pencakar langit. (Foto: Kelvin/Harian Massa.)
Sarmita (50), seorang buruh tani yang berjuang menanam tanaman dibalim bangunan gedung pencakar langit. (Foto: Kelvin/Harian Massa.)

HARIAN MASSA - Gemuruh suara paku bumi menghentak secara berkala. Para pekerja berjibaku membangun Jakarta International Stadium (JIS), Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang kian terlihat megah, Sabtu 16 Oktober 2021.

Tak jauh dari sumber suara hingar bingar pembangunan stadion, terhampar sawah dengan beberapa pekerjanya. Rupanya mereka adalah buruh tani yang memanfaatkan lahan tidur untuk berkebun, yang kebanyakan dari mereka berasal dari Indramayu, Jawa Barat.

“Saya disini sudah dua tahun, sebelumnya saya bertani di kampung. Karena diajak saudara, saya (mau) ikut bertani di sini," ujar Sarmita (50), salah satu buruh tani yang ditemui saat bekerja.

Sarmita (50), seorang buruh tani yang berjuang menanam tanaman dibalim bangunan gedung pencakar langit. (Foto: Kevin Herbian/Harian Massa.)

Pembangunan Stadion JIS. (Foto: Kevin Herbian/Harian Massa.)

Baca Juga: Deretan 5 Film Horor Turki Pilihan Penonton

Bukan hal yang mudah bagi Sarmita dan rekan-rekannya bertani di lahan tidur. Selain tanah yang dinilai kurang subur, deburan debu mega proyek JIS juga mengganggu kualitas hasil perkebunan yang mereka tanam.

Pahit kian terasa ketika mereka diwajibkan membayar uang sewa sebesar Rp500.000,- per bulan untuk setiap petak sawah. Padahal, pendapatan mereka tak melebihi Rp70.000,- setelah bekerja seharian.

Sarmita (50), saat mencangkul dilahan perkebunan dibalik pembangunan gedung pencakar langit. (Foto: Kevin Herbian/Harian Massa.)

Sarmita saat istirahan bersama rekannya di sebuah gubug. (Foto: Kevin Herbian/Harian Massa.)

Baca Juga: Aneh, Pria Ini Dihukum Penjara karena Selamatkan Pengungsi Libya yang Terapung di Laut

Saat ini berdiri belasan gubuk yang dijadikan tempat tinggal sementara bagi para petani. Tidak ada listrik, hanya lampu sorot (senter) yang menjadi modal penerangan saat malam tiba.

Menjadi buruh tani di lahan tidur Ibu Kota bukanlah hal yang mudah. Perubahan peruntukan dan diambilnya lahan selalu menghantui para petani. Tak jarang sebagian dari mereka kembali ke kampung halaman dengan peruntungan yang juga tak selalu menentu.

Sarmita saat menuju gubug tempat istirahat. (Foto: Kevin Herbian/Harian Massa.)

Editor: Don Oslo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X