• Selasa, 16 Agustus 2022

Miris! Kisah Perjuangan Ibu Mencari Keadilan di Sulawesi Selatan

- Kamis, 7 Oktober 2021 | 19:40 WIB
Iluatrasi. (Foto: Pixabay.)
Iluatrasi. (Foto: Pixabay.)
HARIAN MASSA - Sebuah akun Twitter membagikan kisah pilu perjuangan seorang ibu menuntut keadilan atas apa yang menimpa ketiga anaknya.
 
Pasalnya, dua anaknya mengaku menjadi korban sodomi oleh ayahnya, dan satu anak perempuannya mengaku telah di perkosa oleh ayah kandungnya sendiri.
 
"Lydia (nama samaran) seorang ibu tunggal. Meski ke-tiga anaknya ikut bersamanya, tapi mantan suaminya masih ikut terlibat pengasuhan bersama. Mantan suaminya sering menjemput anak-anak saat pulang sekolah, memberi jajan atau mainan," cuit akun project.multatuli org seperti dikutip Harian Massa, Kamis 7 Oktober 2021.
 
 
Lebih lanjut akun twitter tersebut menjelaskan jika suami Lydia merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki posisi di kantor dinas pemerintahan Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
 
"Oktober 2019, anak sulung Lydia merasakan sakit pada bagian vaginanya. Lydia meminta anaknya bercerita. Dengan suara pelan seperti tercekik, si sulung mengatakan jika dirinya diperkosa oleh ayahnya," tulis akun tersebut.
 
"Lydia pun bertanya kepada kedua anak laki-lakinya, kedua anak laki-laki Lydia membenarkan tindakan bejat sang ayah. Tak hanya itu, kedua anak laki-laki Lydia juga turut bercerita jika dirinya menjadi korban sodomi sang ayah," sambungnya.
 
 
Ketiga anak Lydia diketahui masih dibawah umur. Lydia yang mendengar penjelasan anak-anaknya itu kemudian mengadukan dan melaporkan kelakuan mantan suaminya ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Lydia juga melaporkan ke Polres Luwu Timur, Sulawesi Selatan. 
 
Menurut akun tersebut, di kedua institusi itu Lydia tidak mendapatkan keadilan. Bahkan, Lydia dituding memiliki gangguan kesehatan mental.
 
"Proses penyelidikan ini tidak didampingi penasihat hukum," terang akun tersebut.
 
 
Lebih lanjut akun twitter itu menceritakan jika Lydia dipaksa menandatangani BAP ketiga anaknya, akan tetapi ia dilarang membaca isi dari BAP tersebut. Lydia juga diinterogasi dan dipaksa menandatangani keterangannya.
 
"Saya bilang nanti saya tanda tangan setelah ini dilanjutkan. Tapi penyidik memaksa saya. Dan saya ikut tanda tangan. Karena sudah siang dan saya mau pulang untuk buat makanan anak-anak," ujar Lydia dalam akun project.multatuli org.
 
 
Informasinya, dalam akun itu, polisi menghentikan proses penyelidikan atas kasus pencabulan terhadap ketiga anak Lydia, pada 10 Desember 2019. Saat kasus ini diminta untuk dibuka kembali, Polda Sulsel mendukung hasil penyelidikan anak buah mereka di Luwu Timur. 
 
Akun tersebut juga menjelaskan jika LBH Makassar selaku kuasa hukum Lydia menemukan beberapa kejanggalan setelah kasus ditutup.
 
Selain tanpa pendampingan hukum, polisi menolak dan mengabaikan beberapa bukti antara lain, bukti foto dan video serta bukti fisik kekerasan terhadap ketiga anak Lydia.
 
 
Selain itu, bukti pengakuan terhadap ketiga anak yang konsisten dan satu sama lain saling menguatkan, dan bukti diagnosis bagian anus dan vagina rusak, serta susah buang air besar akibat pemerkosaan.
 
Mencuatnya curhatan hati Lydia, membuat netizen bereaksi keras dan menumpahkan emosinya di kolom komentar. Hal itu diketahui dari beberapa netizen yang menyambangi akun project.multatuli org dan bahkan me-mention akun resmi Polda Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
 
Sebagian netizen lainnya, mengucapkan turut berduka cita atas musibah yang menimpa Lydia. Dalam periatiwa itu netizen berharap ada keadilan untuk Lydia dan ketiga anaknya.

Editor: Don Oslo

Sumber: twitter: @projects.multatuli org

Artikel Terkait

Terkini

X