• Rabu, 10 Agustus 2022

WHO Ragu Vaksin Bisa Akhiri Pandemi Covid-19

- Sabtu, 11 September 2021 | 19:20 WIB
Ilustrasi vaksin. (Foto: pixabay.)
Ilustrasi vaksin. (Foto: pixabay.)
HARIAN MASSA - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Eropa menyatakan bahwa pihaknya pesimis terhadap kemampuan vaksin untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Sebab, munculnya varian baru, disebut WHO, memungkinkan harapan untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) dengan vaksinasi bisa saja tidak tercapai.
 
Dilansir Harian Massa dari laman Channel News Asia, kemungkinan bahwa virus mungkin masih ada selama bertahun-tahun juga memperparah keadaan. Direktur Regional WHO untuk Eropa Hans Kluge menyatakan bahwa pejabat kesehatan di dunia harus menyesuaikan strategi vaksinasi dengan varian yang baru. Termasuk mempertimbangkan dosis tambahan. 
 
Pada Mei lalu, direktur WHO Eropa mengatakan pandemi akan berakhir begitu cakupan vaksinasi telah mencapai minimal 70 persen warga dunia.
 
 
Namun, pada Jumat (10/9/2021), ketika ia ditanya apakah angka tersebut masih menjadi target, Kluge mengakui bahwa situasinya telah berubah karena varian baru yang lebih menular, seperti Delta.
 
"Saya pikir itu membawa kita ke titik bahwa tujuan vaksinasi adalah yang pertama dan terutama untuk mencegah penyakit yang lebih serius, yakni kematian," katanya.
 
“Jika kita menganggap bahwa COVID-19 akan terus bermutasi dan tetap bersama kita, seperti halnya influenza, maka kita harus mengantisipasi bagaimana secara bertahap menyesuaikan strategi vaksinasi kita dengan penularan endemik. Serta mengumpulkan pengetahuan yang sangat berharga tentang dampak suntikan tambahan,” katanya. ditambahkan.
 
Ahli epidemiologi saat ini menyatakan bahwa kekebalan kelompok sulit untuk dicapai hanya dengan penggunaan vaksin, meskipun vaksin tetap penting untuk menahan pandemi.
 
"Tingkat vaksinasi yang tinggi juga diperlukan untuk menurunkan tekanan dari sistem perawatan kesehatan yang sangat dibutuhkan untuk mengobati penyakit lain yang didorong oleh COVID-19," kata Kluge.
 
Untuk diketahui, varian Delta dianggap 60 persen lebih mudah menular daripada varian dominan sebelumnya, yaitu Alpha, serta dianggap dua kali lebih menular dari virus asli yang pertama kali merebak.
 

Editor: Don Oslo

Sumber: Channel News Asia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Australia Waspada Banjir

Sabtu, 13 November 2021 | 13:25 WIB

Nasa Potret Hutan Gundul Papua

Sabtu, 13 November 2021 | 12:45 WIB

Fosil Dinosaurus Pertama Ditemukan di Greenland

Kamis, 11 November 2021 | 12:45 WIB

Australia Bakar Tiga Kapal Indonesia

Selasa, 9 November 2021 | 13:24 WIB

5 Negara Termuda di Dunia

Selasa, 9 November 2021 | 12:45 WIB

Pekerja Kokain di Kolombia Pamer Video di Tiktok

Selasa, 9 November 2021 | 10:55 WIB

Ledakan Besar Matahari Buat Aurora Semakin Bercahaya

Kamis, 4 November 2021 | 11:45 WIB

NASA Tunda Peluncuran SpaceX

Kamis, 4 November 2021 | 10:27 WIB
X