• Senin, 8 Agustus 2022

El Salvador Jadi Negara Pertama yang Jadikan Bitcoin sebagai Alat Pembayaran Sah

- Rabu, 8 September 2021 | 17:07 WIB
Bitcoin. (Foto: Pixabay.)
Bitcoin. (Foto: Pixabay.)

HARIAN MASSA - El Salvador pada Selasa 7 September 2021 menjadi negara pertama di dunia yang menerima bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. 

Presiden Nayib Bukele mengklaim bahwa langkah itu akan memberi banyak warga Salvador akses ke layanan bank untuk pertama kalinya dan menghemat sekitar US$400 juta dalam biaya pengiriman uang yang dikirim pulang dari luar negeri setiap tahun.
 
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, semua mata dunia akan tertuju pada El Salvador. Bitcoin melakukan ini," kata Bukele di Twitter resminya, dikutip Harian Massa dari laman Channel News Asia.
 
 
Bukele juga mengumumkan bahwa El Salvador telah membeli 400 bitcoin pertamanya, dalam dua tahap, dan berjanji pihaknya akan lebih banyak lagi yang akan dibeli.
 
Namun, keputusan ini justru ditentang oleh banyak pihak. Setidaknya 6,5 juta warga El Salvador menolak gagasan itu dan akan terus menggunakan dolar AS, yang merupakan mata uang resmi negara itu selama 20 tahun terakhir.
 
 
"Bitcoin ini adalah mata uang yang tidak ada, mata uang yang tidak akan menguntungkan orang miskin tetapi orang kaya," kata Jose Santos Melara, yang ikut serta dalam protes bersama ratusan ribu warga lainnya di ibu kota San Salvador pekan lalu.
 
"Bagaimana orang miskin akan berinvestasi (dalam bitcoin) jika mereka hampir tidak punya cukup makanan?" tambahnya. 
 
 
Pada bulan Juni, parlemen El Salvador menyetujui undang-undang yang mengizinkan uang kripto diterima sebagai tender untuk semua barang dan jasa di negara Amerika Tengah tersebut. Bukele juga menjanjikan akan memberikan US$30 untuk setiap warga negara yang mengadopsi mata uang tersebut.
 
Sejak keputusan ini dibuat, pemerintah memasang lebih dari 200 mesin teller bitcoin, dan dijaga oleh tentara untuk mencegah kemungkinan pembakaran oleh para demonstran.
 
Oscar Cabrera, seorang ekonom di Universitas El Salvador, mengatakan bahwa volatilitas mata uang yang tinggi akan memiliki dampak negatif pada konsumen, dan mempengaruhi harga barang dan jasa.
 

Editor: Don Oslo

Sumber: Channel News Asia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Australia Waspada Banjir

Sabtu, 13 November 2021 | 13:25 WIB

Nasa Potret Hutan Gundul Papua

Sabtu, 13 November 2021 | 12:45 WIB

Fosil Dinosaurus Pertama Ditemukan di Greenland

Kamis, 11 November 2021 | 12:45 WIB

Australia Bakar Tiga Kapal Indonesia

Selasa, 9 November 2021 | 13:24 WIB

5 Negara Termuda di Dunia

Selasa, 9 November 2021 | 12:45 WIB

Pekerja Kokain di Kolombia Pamer Video di Tiktok

Selasa, 9 November 2021 | 10:55 WIB

Ledakan Besar Matahari Buat Aurora Semakin Bercahaya

Kamis, 4 November 2021 | 11:45 WIB

NASA Tunda Peluncuran SpaceX

Kamis, 4 November 2021 | 10:27 WIB
X