• Rabu, 7 Desember 2022

Wawancara Eksklusif Dieter Mack: Realisme Sosialis Lekra dan Pembantaian Massal PKI (2-habis)

- Sabtu, 1 Oktober 2022 | 07:25 WIB
Dieter Mack di depan muridnya. Foto: Istimewa
Dieter Mack di depan muridnya. Foto: Istimewa
 
HARIAN MASSA - Pembantaian anggota dan simpatisan PKI, pada 1965-1966, merupakan tragedi kemanusiaan terbesar di Indonesia. 
 
Seperti diungkapkan filsuf Inggris Betrand Russel, dalam empat bulan saja, jumlah korban tewas dalam peristiwa pembunuhan itu telah lima kali lebih besar dari korban perang Vietnam selama 12 tahun. 
 
Tetapi tidak hanya di lapangan politik, peristiwa pembantaian massal itu juga sangat merugikan kemajuan di lapangan seni dan budaya. 
 
 
Seperti diungkapkan oleh Dieter Mack, profesor musik asal Jerman.
 
Menurutnya, peristiwa pembunuhan besar-besaran itu juga telah menghapus seluruh penduduk Desa Kedis Kaja, di Bali, karena dianggap sebagai pusat PKI saat itu. 
 
Dalam sebuah wawancara, Dieter Mack mengungkapkan bagaimana kondisi politik di lapangan budaya sebelum meletus peristiwa nahas itu. Di mulai dari lahirnya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). 
 
 
Kemudian, wawancara diteruskan hingga pembunuhan massal itu. Seperti apa petikan wawancaranya, sebagai berikut: 
 
1. Memasuki tahun 50-an, Indonesia mengalami perubahan politik kepemimpinan. Lekra lahir. Bagaimana anda melihat Lekra?
 
Saya tidak punya sikap positif terhadap Lekra sebab setiap institusi politis yang ingin mengontrol seni, menurut saya sudah salah.
 
2. Sebagai lembaga seni dan budaya progresif yang dekat dengan PKI, bagaimana Lekra mengembangkan seni musik di Indonesia? Apa yang ingin dicapainya?
 
 
Pada umumnya dampak Lekra bukan progresif (hanya dilihat progresif oleh beberapa ideolog rezim Soekarno).
 
Mereka mengutamakan agar musik harus mencerminkan masyarakat sambil bekerja (realisme sosialis seperti di Rusia). Inilah tujuannya utama.
 
Contoh: Tari Tenun, Tari Tani, Tari Nelayan di Bali yang secara artistic sangat miskin dan orang Bali sama sekali tidak suka.
 
3. Kemajuan paling besar apa yang berhasil dicapai seni musik Indonesia era demokrasi terpimpin saat itu, bisa anda jelaskan?
 
 
Tidak ada kemajuan signifikan, tetapi juga tidak ada dampak negatif yang terlalu besar.
 
4. Perhatian Soekarno terhadap musik juga sangat besar. Tetapi di saat yang sama, dia juga tidak suka pengaruh Barat dalam musik Indonesia yang disebutnya musik ngak, ngik, ngok. Bagaimana anda melihat situasi saat itu?
 
Dalam hal ini, saya sangat setuju dengan Soekarno. Sebab yang dianggap musik Barat pada saat itu, sama sekali tidak relevan.
 
Dan sekali lagi, bila segmen musik Barat yang miskin diambil sebagai musik nasional Indonesia, saya amat menyesal. Tapi justru inilah yang terjadi di sekolah.
 
 
5. Adakah perang dingin ikut mempengaruhi seni musik di Indonesia? Sejauh mana peran Barat dalam kemajuan musik Indonesia?
 
Saya kira perang dingin seperti di Eropa tidak ada dampak pada Indonesia, mengingat banyak seniman Indonesia studi ke Eropa seperti Slamet A. Sjukur dan Suka Hardjana.
 
Menurut saya, Barat pada waktu itu kurang relevan untuk kemajuan di musik Indonesia, kecuali secara individual.
 
6. Konflik yang semakin memuncak antara tentara dan PKI akhirnya pecah. Gerombolan kecil tentara, dibantu sejumlah elite PKI, melakukan penculikan jenderal-jenderal.. berawal dari sinilah, sejarah Indonesia berubah untuk selama-lamanya. Bagaimana anda melihat peristiwa ini? Apa dampaknya terhadap perkembangan seni musik di Indonesia?
 
 
Konflik semakin memuncak, ya saya setuju. Siapa sebenarnya melakukan penculikan jenderal-jenderal belum terbukti sampai hari ini (Lihat Bradley Simpson dan Vincent Bevins dan lain-lain.). 
 
Maka saya tidak setuju, bahwa itulah gerombolan kecil tentara (barangkali ya, tetapi bukan dibantu oleh PKI tetapi oleh CIA).
 
7. Tidak lama setelah mayat para jenderal itu ditemukan di Lubang Buaya, terjadi pembersihan atau pembunuhan besar-besaran terhadap anggota dan simpatisan PKI. Termasuk para seniman Lekra. Bagaimana anda melihat peristiwa berdarah ini? Apa dampaknya terhadap perkembangan seni musik Indonesia modern?
 
 
Dampak ini besar sekali. Sebab banyak orang yang berbakat akhirnya meninggal atau mendapat kesulitan, disiksa dan sebagainya.
 
Soalnya, tuduhan PKI kemudian diluaskan menjadi tuduhan terhadap segala sesuatu yang tidak disukai (saling denunsiasi). Terjadi semacam perang saudara.
 
Tentu, para seniman yang paling sensitif dan maju (dalam arti yang sebenarnya) sering dianggap komunis tanpa alasan yang sebenarnya. Padahal seni tak bisa diatur. Kalau diatur, bukan seni lagi.
 
 
Kami tahu itu dari zaman fasisme. Atau dengan kata lain: Setiap rezim totaliter yang ingin mengontrol seni, saya tolak, entah itu atas nama ideologi komunisme, fasisme, agamaisme, dan lain-lain.
 
8. Sejak peristiwa itu, PKI dilarang dan semua yang berbau Marxisme-Leninisme dianggap tabu.. bahkan hingga saat ini. Bagaimana anda melihat fenomena itu?
 
Menurut saya salah besar. Lihat saja bagaimana di Jerman periode fasisme dan holocaust tetap dibahas di sekolah secara terbuka dan menjadi tema resmi terus-menerus.
 
 
Mendiskusikan segala kekurangan secara resmi adalah cara satu-satunya untuk menyembuhkan masyarakat Indonesia.
 
Kalau tidak, mahkluk "PKI" tetap akan berbau terus di mana-mana, dan manusia yang dulu menderita (dan masih sekarang) tidak bisa sembuh.
 
Di Samping itu, saya yakin, kebanyakan orang yang bericara tentang PKI, Marxisme dan Leninisme, mereka belum pernah membaca tentang filsafat itu.
 
9. Berapa banyak yang menjadi korban tragedi kemanusian 1965-1966 dari golongan musisi maupun mereka yang tergabung dalam Lekra? Dan seberapa besar dampaknya terhadap perkembangan musik di Indonesia?
 
 
Saya tidak bisa melayani Anda dengan sebuah angka. Yang jelas, banyak yang meninggal tanpa alasan.
 
Walaupun saya kurang setuju dengan politik Lekra, itu bukan alasan kemudian untuk membunuh orang oleh sistem Orde Baru, mengingat bahwa misalnya Desa Kedis Kaja di Bali ditiadakan sepenuhnya, karena dianggap pusat PKI.
 
Desa itu (pada waktu itu) adalah pusat gamelan kontemporer di Bali Utara (lihat buku Ruby S. Ornstein).
 
 

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

5 Kekejaman Amangkurat I, Nomor 3 Paling Brutal

Senin, 21 November 2022 | 06:30 WIB
X