• Jumat, 7 Oktober 2022

Kisah Rasuna Said Dipenjara Belanda karena Menolak Bujukan Daniel van der Meulen

- Rabu, 14 September 2022 | 14:06 WIB
Rasuna Said. Foto: Istimewa
Rasuna Said. Foto: Istimewa

HARIAN MASSA - Rasuna Said bukan hanya nama sebuah jalan di daerah Kuningan, Jakarta. Tetapi sosok pejuang perempuan tangguh dari Maninjau, Sumatera Barat.
 
Rasuna Said dilahirkan, pada 14 September 1910, di Panyinggahan, tidak jauh dari pasar Maninjau. Ayahnya bernama H Muhammad Said, seorang pengusaha yang sukses.
 
Setelah menikah, Rasuna Said mendapat gelar Rangkayo. Sayang, pernikahannya dikabarkan tidak berakhir bahagia.
 
 
Perempuan yang akrab disapa Kak Una ini, menempuh pendidikan Islam sejak kecil. Dia tidak mau mengikuti jejak saudaranya mengikuti pendidikan di sekolah Belanda.
 
Pada usia 23 tahun, Rasuna Said dihukum oleh Belanda. Dia dimasukkan ke dalam penjara di Semarang, karena aktivitasnya di Persatuan Muslimin Indonesia (Permi).
 
Sebelum bergabung dengan Permi, Rasuna Said ikut bergerak dalam Sarekat Rakyat.
 
 
Dia baru bebas ketika Perang Dunia II pecah 1939. Sebagai anggota pimpinan Permi, Rasuna Said dianggap sangat berbahaya. Pidato-pidatonya tajam mengkritisi Belanda.
 
Pada zaman pendudukan Jepang, ia berada di Sumatera Barat. Setelah Indonesia merdeka, dia pindah ke Jawa dan menjadi anggota Badan Pekerja KNIP.
 
Setelah itu, dia menjadi anggota parlemen RI. Dari 1959 hingga 1965, dia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI.
 
 
Tentang kegigihan perjuangan Rasuna Said, Dr Daniel van der Meulen memiliki catatan khusus. Saat itu, Rasuna Said masih berada di dalam penjara karena aktivitas politiknya.
 
Sebagai Controuler BB di Tanah Batak dan Ranah Minang (Payakumbuh), dia pernah meminta Rasuna Said untuk pensiun dari kegiatan-kegiatan politiknya di Permi.
 
Tetapi perempuan pendiri Sekolah Thawalib di Padang ini tidak bergeming. Upaya brain wash Van der Meulen pun sia-sia belaka.
 
 
Melihat sikap keras Rasuna Said, pria yang pernah menjadi Asisten Residen di Palembang dan Makassar ini menilai, Kak Una merupakan pejuang yang tangguh.
 
Dalam catatan Van der Meulen itu juga diketahui, bahwa Rasuna Said pernah menjadi guru di sekolah menengah Islam dengan murid perempuan 1.000 orang.
 
Sebenarnya, jika saat itu Rasuna Said mau mengikuti saran atau bujukan Van der Meulen, maka hukumnya akan diperingan.
 
 
Tetapi bukan itu jalan yang dia tempuh. Perempuan tangguh itu akhirnya dihukum oleh Belanda dan masuk penjara perempuan di Semarang, hingga 1939.
 
Rasuna Said meninggal dunia, pada 10 November 1965, di usia yang relatif masih muda, 55 tahun. Dia meninggalkan seorang putri dari perkawinannya yang pertama.
 
Berdasarkan SK Presiden, No 084/TK/1974, Rasuna Said diangkat menjadi pahlawan nasional.
 
 
Sumber tulisan:
1. Rosihan Anwar, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Volume 1, Kompas, 2004.
2. Jajat Burhanuddin, Ulama perempuan Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Entong Gendut dan Riwayat Pemberontakan Condet 1916

Selasa, 6 September 2022 | 08:45 WIB
X