• Jumat, 7 Oktober 2022

Kisah Kekejaman Militer Jepang, Hukum Pancung 40.000 Guru dan Kaum Cerdik Pandai di Kalimantan

- Kamis, 11 Agustus 2022 | 15:16 WIB
Seorang tentara Jepang. Foto: Istimewa
Seorang tentara Jepang. Foto: Istimewa

HARIAN MASSA - Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia era Orde Baru, Wardiman Djojonegoro memiliki pengalaman buruk lolos dari hukuman pancung militer Jepang, saat berada di Kalimantan.

Dalam bukunya, Sepanjang Jalan Kenangan, dia menceritakan saat pendudukan Jepang di Indonesia. Saat itu, dirinya bersama keluarga masih berada di Balikpapan. Mereka pun diminta untuk segera mengungsi.

"Pemerintah Belanda menyuruh istri dan anak pegawai pemerintah, termasuk guru dan keluarganya untuk pergi mengungsi. Maka, ibu dan kami pergi mengungsi, pada 1941," katanya, dikutip dari halaman 12.

Baca juga: Riwayat Bom Atom Hiroshima-Nagasaki dan Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Saat pendudukan Jepang, wilayah Kalimantan dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang. Sedangkan Jawa, dikuasai oleh Angkatan Darat Jepang. Angkatan Laut Jepang memiliki kewenangan pembersihan atau ethnic cleasing.

Mereka lalu mengumpulkan guru dan golongan terpelajar di wilayah itu untuk menyatakan ikrar kesetiaan kepada tentara pendudukan Jepang. Di antara yang diminta menyatakan ikrar itu keluarga Wardiman.

"Tetapi syukurlah, Ayah bersama enam temannya yang juga guru menolak datang dan melarikan diri masuk hutan, karena tidak percaya Jepang mempunyai niat baik," sambungnya.

Baca juga: Serangan Bom Atom Hiroshima-Nagasaki dan Buruknya Pendidikan Zaman Jepang

Benar saja, ternyata guru dan kaum cerdik pandai yang dikumpulkan di balai kota untuk menyatakan ikrar setia terhadap militer Jepang itu kemudian ditangkap dan dihukum pancung semuanya.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Entong Gendut dan Riwayat Pemberontakan Condet 1916

Selasa, 6 September 2022 | 08:45 WIB
X