• Sabtu, 25 Juni 2022

Tragedi Awal Kemerdekaan, Pembunuhan 653 Warga Cina Benteng di Tangerang

- Sabtu, 4 Juni 2022 | 07:45 WIB
Ilustrasi warga Cina Benteng di Tangerang. Foto: Istimewa
Ilustrasi warga Cina Benteng di Tangerang. Foto: Istimewa

HARIAN MASSA - Pembunuhan sebanyak 653 warga Cina Benteng, di Tangerang, pada 1946, merupakan tragedi kemanusiaan pada awal Indonesia merdeka. Bagaimana jalannya peristiwa itu, berikut ulasan Harian Massa.

Menurut Uka Tjandrasasmita, Tangerang pada zaman dahulu dijadikan sebagai salah satu pelabuhan di wilayah Kerajaan Padjajaran. Secara historis, kedatangan orang Cina ke Tangerang, terjadi secara bergelombang.

Gelombang pertama, dimulai dari kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Nusantara, ke Teluk Naga, Tangerang, pada 1570. Karena kawasan itu tidak bisa digunakan mendarat kapal-kapal besar, Cheng Ho mengirim pasukannya.

Baca juga: Banjir Darah di Tanah Mataram, Amangkurat I Bunuh 6.000 Ulama Islam dalam Waktu 30 Menit

Dengan mengendarai kapal-kapal kecil, mereka melihat situasi di Teluk Naga. Hasil pemandangan ini, kemudian disampaikan kepada Ma Huan. Sejak kunjungan itu, secara berangsur orang Tionghoa pergi ke Teluk Naga.

Lambat laun, mereka membentuk komunitas dan pemukiman di kawasan itu. Di antara utusan Cheng Ho yang bermukim di Teluk Naga adalah Chen Ci Lung. Mereka, sebagian beragama Islam. Inilah nenek moyang warga Cina Benteng.

Warga Cina Benteng, menggantungkan hidupnya sebagai buruh, nelayan, dan petani. Mereka juga berbaur dengan pribumi dan melakukan kawin campur. Dari Teluk Naga, mereka menyebar ke wilayah Tangerang lainnya.

Baca juga: Hedonisme Masyarakat Jawa masa Majapahit, Suka Mabuk-mabukan dan Berbuat Zina

Berdasarkan penelusuran lapangan, warga Cina Benteng tersebar di hilir Sungai Cisadane, mulai dari Pantai Utara Laut Jawa, Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, kawasan Pasar Lama Tangerang, Serpong, hingga Pamulang.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X