• Kamis, 18 Agustus 2022

Banjir Darah di Tanah Mataram, Amangkurat I Bunuh 6.000 Ulama Islam dalam Waktu 30 Menit

- Jumat, 3 Juni 2022 | 07:25 WIB
Amangkurat I. Foto: Istimewa
Amangkurat I. Foto: Istimewa

Sehari setelah pembantaian ribuan ulama itu, Amangkurat I mengadakan rapat dengan para pembesar kerajaan.

Yang mengejutkan, dalam rapat itu dia berpura-pura terkejut dengan pembantaian 6.000 ulama di Mataram. Dengan mata merah, dia melihat satu persatu pembesar kerajaan. Suasana pun menjadi hening hingga sejam lamanya.

Tiba-tiba, Amangkurat I membicarakan peristiwa pembantaian itu. Dia mengatakan, para ulama itu terlibat dalam kudeta yang mengakibatkan Raden Mas Alit tewas. Dia juga curiga ada pembesar kerajaan yang terlibat.

Baca juga: Sejarah Islam: Pemukiman Muslim di Barus Ada Sejak Zaman Rasulullah

Beberapa menit kemudian, dia menunjuk empat orang pembesar kerajaan. Mereka difitnah menjadi dalang kudeta Raden Mas Alit dan pembunuhan para ulama. Mereka lalu ditangkap dan dipaksa untuk mengakui apa yang tidak diperbuatnya.

Meski awalnya sempat mengelak, tetapi karena tidak adanya pembelaan, membuat keempat pembesar kerajaan itu dijatuhi hukuman mati. Hal ini dilakukan Amangkurat I agar namanya tetap besar dari teror dan pembunuhan.

Selama 30 tahun, Amangkurat I berhasil mempertahankan kekuasaannya di bumi Mataram. Namun, diakhir masa kekuasaannya, dia diguncang pemberontakan hebat dari Pengran Trunojoyo, hingga terusir dari istananya.

Baca juga: 3 Teori Penting Sejarah Awal Masuknya Islam di Indonesia, Mulai Abad 7 hingga 13 Masehi

Raja Mataram yang terkenal tiran dan haus darah itu akhirnya meninggal di tempat pelarian, Desa Wanayasa, Banyumas, pada 13 Juli 1677. Jenazahnya lalu dimakamkan di Tegalwangi atau Tegalarum.

Demikian ulasan Harian Massa. Semoga bermanfaat.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X