• Selasa, 16 Agustus 2022

Hedonisme Masyarakat Jawa masa Majapahit, Suka Mabuk-mabukan dan Berbuat Zina

- Jumat, 27 Mei 2022 | 07:30 WIB
Ilustrasi masyarakat Jawa masa Majapahit. Foto: Istimewa
Ilustrasi masyarakat Jawa masa Majapahit. Foto: Istimewa

Alih-alih mencari kebahagiaan, masyarakat Jawa saat itu malah mengikuti semua hawa nafsunya. Mereka banyak yang suka bermain judi, hidup bersenang-senang, minum-minuman keras, hingga main perempuan dan zina.

Gaya hidup hedonisme ini, diperkuat dengan pandangan Hindu Tantrik yang melarang manusia membatasi hawa nafsu, dan untuk meraih kebahagiaan manusia harus sebanyak-banyaknya melakukan 5 M.

Baca juga: Gerakan Samin Menolak Membayar Pajak Pemerintah Kolonial Belanda (3-Selesai)

Adapun 5 M itu kepanjangan dari Madya yang berarti minuman keras atau minum hingga mabuk, Mangsa atau daging, yakni makan sebanyak-banyaknya. Matsya atau ikan, Mudra atau nasi, gandum, biji-bijian, dan jagung.

Kemudian yang terakhir adalah Maithuna atau perempuan, yakni lakukan hubungan seks sebanyak-sebanyaknya.

Melihat kondisi masyarakat Majapahit yang demikian rusak, Sunan Ampel melakukan dakwah dan membuat penangkal dari filsafat hedonisme yang ada dalam ajaran Hindu Tantrik. Dakwah itu dikenal dengan Molimo.

Baca juga: Sejarah Islam: Pemukiman Muslim di Barus Ada Sejak Zaman Rasulullah

Molimo adalah ajakan untuk menolak lima (limo) perkara yang terlarang, seperti Emoh main atau tidak mau main judi, Emoh ngombe atau tidak minum minuman yang memabukkan, Emoh madat atau tidak mau mengisap candu.

Kemudian Emoh maling atau tidak mau mencuri, dan terakhir Emoh madon, yakni tidak mau main perempuan atau zina.

Ajaran Malimo terbukti berhasil menangkal hedonisme pada masyarakat Jawa saat itu. Tidak hanya itu, melalui Malimo ini juga Sunan Ampel berhasil menarik banyak masyarakat Majapahit untuk memeluk agama Islam.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X