• Jumat, 19 Agustus 2022

Gerakan Samin Menolak Membayar Pajak ke Pemerintah Kolonial Belanda (1)

- Sabtu, 21 Mei 2022 | 07:50 WIB
Samin Surontiko. Foto: Istimewa
Samin Surontiko. Foto: Istimewa

Meski demikian, Samin Surontiko sebenarnya bukan petani miskin. Dia memiliki tiga bau (1 bau = 7096 meter persegi) sawah, satu bau ladang, dan enam ekor kerbau. Dia juga disebutkan selalu menjaga jarak dengan ajaran Islam.

Bagaikan seorang ahli kebatinan, dia akhirnya mulai mengenalkan ajarannya yang disebut agama Nabi Adam, pada 1890, di Desa Klopodhuwur. Sejak itu, banyak petani miskin dan berpunya yang menjadi pengikutnya.

Baca juga: Al Hallaj, Ulama Persia yang Dihukum Gantung dan Mayatnya Dipotong-potong

Pada awal kemunculannya, gerakan ini diabaikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Apalagi, gerakan itu mengajarkan kebatinan atau agama baru yang tidak mengganggu ketentraman dan keamanan masyarakat.

Menurut Penasehat Pemerintah Urusan Bumiputera, Snouk Hurgronje, gerakan Samin merupakan gerakan mesianistis yang non Islam. Gerakan ini tidak berbahaya dan akan redup dengan sendirinya jika para pemimpinnya dibuang.

Hal ini membuat Samin Surontiko bebas mencari pengikut, mengembangkan ajarannya. Pada 1903, Residen Rembang mencatat, pengikut Samin sudah mencapai 772 orang, tersebar di 34 desa, di wilayah Blora dan Bojonegoro.

Baca juga: DN Aidit, Gembong PKI yang Pandai Menghafal Alquran

Saat gerakan itu mulai membesar, pemerintah Belanda akhirnya baru curiga. Apalagi, setelah terjadi perubahan pada gaya hidup Orang Samin. Mulai 1905, para pengikut Samin mulai mengubah gaya hidup mereka sehari-hari.

Pertama-tama, mereka mulai menolak memberikan sumbangan kepada lumbung desa, dan berternak dilakukan sebagai usaha bersama. Soal pajak, mereka menilai itu bukan suatu kewajiban, melainkan sebuah kerelaan untuk dibayar.

Namun, Samin Surontiko akhirnya benar-benar tidak membayar pajak

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X