• Senin, 28 November 2022

Mengungkap Penyamaran Soeharto, Pertemuan Rahasia dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX

- Sabtu, 12 Maret 2022 | 07:45 WIB
Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Soeharto. Foto: Istimewa
Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Soeharto. Foto: Istimewa

HARIAN MASSA - Salah satu peristiwa penting di seputar Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah pertemuan antara Soeharto dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX secara rahasia di Keraton Yogyakarta.

Selama 32 tahun Orde Baru, masyarakat Indonesia dicekoki versi yang mengatakan peristiwa itu terjadi setelah Serangan Umum 1 Maret 1949. Versi ini, mengangkat Soeharto sebagai tokoh sentral dalam peristiwa itu.

Sehingga menjadi wajar jika tidak ditulisnya nama Soeharto dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara membuat para pendukung Orba protes.

Baca juga: Tidak Ada Nama Soeharto dalam Keppres Nomor 2 Tahun 2022

Dalam otobiografinya, Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, ditegaskan bahwa pertemuan itu dilakukan sesudah Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat itu, Soeharto menyamar masuk ke dalam keraton.

"Saya menyamar masuk menemui Sri Sultan itu pada pertengahan bulan Mei, bertolak dari Bibis, jadi sesudah Serangan Umum 1 Maret 1949," ungkap Soeharto, seperti dikutip Harian Massa, pada halaman 66.

Selain bertemu dan bicara empat mata dengan Sultan, kedatangan Soeharto itu dimanfaatkan untuk menemui istri dan anaknya sulungnya yang sudah berusia empat bulan. "Tak habis-habisnya saya menciuminya," paparnya.

Baca juga: Film Janur Kuning Propaganda Orde Baru Tonjolkan Peran Soeharto Hapus Klaim Sultan

Dalam pertemuan itu, Soeharto menegaskan sikapnya terhadap Sultan yang sempat salah paham terhadapnya. Sejak awal, Soeharto mengaku tidak pernah mengakui kekuasaan Belanda di Yogyakarta yang tidak menganggap TNI.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

5 Kekejaman Amangkurat I, Nomor 3 Paling Brutal

Senin, 21 November 2022 | 06:30 WIB
X