• Sabtu, 28 Mei 2022

Kesaksian Pembantaian Massal di Pabrik Gula Djatibarang pada Masa Bersiap 1945

- Minggu, 23 Januari 2022 | 20:33 WIB
Ilustrasi suasana masa bersiap (Historia/Roland Najoan)
Ilustrasi suasana masa bersiap (Historia/Roland Najoan)

HARIAN MASSA - Dalam periode perang kemerdekaan, ada satu babak yang dinamakan masa bersiap. Masa ini diwarnai dengan kekerasan fisik. Bahkan di beberapa tempat menjadi ajang pembantaian. 

Seperti yang diunggah Twitter Robert Lumintang @crazysmartasian. 

Menurutnya, menolak masa bersiap dalam sejarah Indonesia modern, tidak hanya menyakitkan bagi Belanda. Tetapi juga sebagai orang Indonesia yang menjadi korban dari kekerasan fisik dan pembantaian.

Baca juga: Masuknya Islam ke Indonesia, Tinjauan Empat Teori dari Makkah hingga Cina

Berdasarkan terjemahan dokumen berisi kesaksian di bawah sumpah Ibu Matullessya, dibeberkan pembantaian di pabrik gula, di Djatibarang.

Diceritakan bahkan Ibu Matullessya merupakan orang Ambon. Dulu dia tinggal di pabrik gula, di Djatibarang. Dalam sumpahnya dia menyatakan, bahwa pada 11 Oktober 1945, ada sebanyak 17 orang (Eropa, Ambon, Menado, dan Tionghoa) di pabrik gula tersebut.

"Hampir semua karyawan pabrik tersebut di atas dibunuh," cuitnya, seperti dikutip Harian Massa, Minggu (23/1/2022). 

Baca juga: Foto Dua Pejuang Gugur usai Dieksekusi Mati Tentara Belanda Viral di Media Sosial

Dijelaskan dia, pelaku utama pembantaian itu adalah Soepono, mantan Heiho, yang tinggal di Djatibarang Kidoel. Setelah pembunuhan dilakukan, penduduk sekitar pabrik gula harus meludahi mayat. Setelah itu, mayat dipindahkan ke pemakaman Tionghoa, dan dimuat gerobak.

Halaman:

Editor: Ibrahim H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X